Melankolia

Malam itu,
Kamu bicara tentang keluh kesahmu
Bicara apa yang menjadi beban tanggung jawabmu, yang ku tau memang itu tak mudah
Hari itu kamu mungkin sedang lelah; mungkin juga kesepian
Tergambar jelas dalam raut wajahmu yang sedang masam, juga muram
Terpancar dari matamu kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Mungkin saat itu kamu sedang ingin menangis
Matamu yang hampir berkaca-kaca, namun tertahan dengan caramu menenangkan dirimu sendiri
Mencoba membuat semua baik-baik saja; mulutmu bisa berkata 'tak apa' namun hatimu?
Entahlah. Aku benci dengan asumsi-asumsi rasaku sendiri, yang hanya bisa 'mungkin'

Malam itu,
Aku memandangmu.
Memerhatikan caramu berbicara
Hati mana yang tidak penasaran,
Bermain dengan segala teka-teki rasamu.
Berkecamuk dalam hati 'apa yang sedang terjadi?'
Memang malam itu, kesalahan kami. 
Mengecewakanmu yang mengemban tanggung jawab yang ku tau itu tidak mudah.
Tapi aku sebal, jika harus melihatmu dengan hati yang buruk.
Aku hanya bisa menuliskan, apa yang aku rasa.
Kata nadin dalam lagunya, kamu memang manusia sedikit kata, bolehkan aku yang bicara? 
Begini, 
Bila hatimu lelah, istirahatlah.
Berceritalah pada angin malam, jika tak ingin orang lain tau.
Menangislah jika memang membuatmu mereda. Kamu lelaki, tapi kamu juga manusia.

Malam itu,
Ingin aku mengutarakan
Bersiap mendengarkan kisahmu
Kata nadin di lagunya pula, kamu memang manusia tak kasat rasa
Lagi-lagi aku lelah dengan teka-teki setiap lamunanmu, sorot matamu yang entah kemana saat bicara, setiap lika-lakumu
Menurutku, kamu manusia yang tidak ada celah..
Mendekat rasanya tidak mungkin, aku rasa kamu sudah bahagia dengan hati lain di sana.
Bukan tentang hal itu, tapi rasa ini yang selalu khawatir tentang tak ada celahmu untuk berhenti,
Berhenti dari setiap kegiatan yang kamu lakukan; banyak tanggung jawab yang kamu emban
Berhentilah, lalu duduklah. Tarik nafasmu lebih banyak lagi. Mungkin kamu sedang terengah-engah. Ku tau banyak yang sedang kamu perjuangkan.

Semoga, angin malam selalu bersahabat denganmu.
Menjadikan hangat, mengantarmu pulang saat malam-malam.
Semoga kamu selalu baik-baik saja di hari-hari yang kamu jalani.
Semoga raut masam dan bersedih itu tidak kujumpai lagi saat aku bertemu denganmu lagi
Sesekali bahagiakanlah diri sendiri.
Berjalan menikmati suasana kota dengan hati yang sudah kamu pilih.
Ah,
Kuyakin kamu juga begitu. Atau mungkin, hubunganmu terhalang jadwal organisasi, juga pembimbingan? Kurasa tidak. Aku yakin kamu bisa mengaturnya dengan baik.
Sebenarnya aku tak berniat memberi isyarat, memang tak ada.

Sekali lagi, maafkan kami tentang malam itu. Aku akan berusaha yang terbaik, 
tapi kalau bertemu lagi, jangan kamu tunjukkan mukamu yang begitu masam.
Hingga hampir menangis
Bahkan, yang kubenci aku harus menahan kata untuk berucap "Apa yang sedang terjadi?"
Bila terulang lagi,
Jangan heran jika aku berucap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAY 1; Yang Dicari Di Cancangan