Candi yang Buat Candu

Sebuah perjalanan baru, pengalaman baru, dan kisah baru. Di sini lah aku menemukan titik dimana aku merasa nyaman dengan apa yang aku jalani selama ini. Di atmosfer baru, sebuah desa dengan segala dinamika sosialnya yang membuat hangat; berbeda. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dengan segala problematikanya. Di lereng sebuah gunung di utara Yogyakarta. Hawa dingin yang identik dengan desa ini. Berjalan kaki menaiki bukit dengan terengah-engah untuk menuju Desa Candi.

Berkenalan dengan induk semang, lalu diceritakanlah kami semua hal-hal baru. Silisilah keluarga, pekerjaan, kegiatan beliau tiap harinya. Benar - benar ramah. Menyajikan makanan-makanan kecil dan teh hangat tiap saat. Juga menawarkan selimut ketika kami akan tidur. Saat kami akan berkegiatan, ibuk semang selalu berkata,

"Makan dulu, Mbak. Biar gak lemes nanti"

Apa pun makanan yang ibuk sediakan, pasti kami makan. Ibuk semang tidak bisa berbahasa Indonesia lancar, untungnya saya dan teman satu kelompok saya orang Jawa. jadi berkomunikasi dengan ibuk dan keluarganya mudah. Kami sama-sama mengerti. Ibuk selalu menyajikan semangka kuning dimana itu menjadi makanan favorit kami. Teman-teman kelompok lain juga sering berkunjung. Rumah induk semang sangat nyaman, dari luar menampakkan keluarga dengan kondisi ekonomi yang berkecukupan. Tak hanya rumah ibuk semang kami, rumah-rumah yang lain pun sama. Bermacam-macam kesan kami saat berkunjung pertama kali ke rumah induk semang. Entah yang masih bingung menggunakan pipa air, dan hal lucu lainnya. Namun yang membuat kami nyaman yaitu sebuah kesederhanaan.

Rumah-rumah warga di desa ini beda dengan rumah-rumah di kota. Medannya yang tidak datar membuat kami jika ingin berkunjung ke rumah lain atau ke kebun krisan harus mendaki ke atas. Desa ini terkenal akan budidaya bunga krisannya. Kubung-kubung krisan punya ibuk semang kami ada di atas sehingga kami harus berjalan naik. Waktu itu kami ke kebun saat senja, saat matahari sudah remang menampakkan sinarnya. Sudah saatnya kubung-kubung itu dinyalakan lampunya. Cantik memang dengan angin petang yang menerpa tubuh ini.

Kubung krisan saat petang yang disinari lampu
Ibuk dan Bapak, juga Simbah tak pernah marah jika rumahnya kami pakai untuk berkegiatan di malam hari. Tiap malam kami selalu mengadakan asistensi di rumah induk semang kami. Ya. terkadang dengan suara yang tidak pelan karena diskusi. Namun ibuk dan bapak memaklumi hal itu. Malah tiap malam kami disediakan camilan sebagai teman asistensi. Kami juga mewawancarai tentang keseharian induk semang kami. Bapak bercerita dengan detail dan tetap sabar menjawab pertanyaan yang bermacam dari kami. Yang kuingat saat pulang, ibuk bilang,

"Sepi meneh, mba. Ra ono rame-rame neh nek mbengi."
͢
 "Sepi lagi, mbak. Kalau malam bakal ngga rame lagi."

Pada malam awal memang kami tidak terbiasa dengan hawa dinginnya. Kami tidur dengan selimut berlapis. Ditambah kaos kaki, juga penutup kepala. Benar-benar dingin. Namun, hari-hari berikutnya kami sudah terbiasa. Dengan segala keberanian, mandi jam 5 pagi. Bisa bayangkan, air seperti es mengguyur tubuh yang baru bangun. Hmm.. yang aku suka dari rumah induk semangku, di teras sini kami bisa melihat pegunungan di depan sana. Padahal jauh, namun tampak dekat. Dengan dua gunung gagah di belakangnya. Sepertinya Gunung Merbabu, mungkin. Karena saya tidak tahu arah disini, hehe. 
Foto dengan asisten dosen terlegend baiknya, hehe. Keren juga sih. Keren karena pinter, sabar, maksutnya. Foto bareng dengan kakak ini dengan terbayang laprak DITK yang belum kelar dan responsi, hehe. Ngga deng, enjoy aja. 
Di hari terakhir setiap anak diber satu buket bunga krisan ini. Cantik kan? Buat penghias meja agar semangat 

Ini Ibuk, Bapak, dan Simbah yang sudah merawat kami ketika 3 hari di Bandungan. Beliau sangat baik, ramah, pengertian, dan sederhana.

Pemandangan dari teras induk semang, cantik kan.
Tau kan saya yang mana? (Dari kiri: Olin; yang awalnya saya kira kalem setelah tau dan terbiasa ternyata sadis dan seru juga hehe. Paling santuy. Lalu Hani, si sobat dari Gunung Kidul yang asyik kalo diajak ngerumpi, hehe. Dia selalu bersedia kalau suruh mandi paling akhir hehe. Maaf ya, Han. Kerudung abu dengan kacamata, Ismi, si teteh dari Kebumen yang keibu-ibuan sekali. Paling dewasa di antara kami berenam. Lalu Anisa, teman sekelas yang kebetulan hanya kami di kelompok ini dari Agribisnis. Paling jangkung, Dinni, si manis dari Kebumen yang sabar saat kusambatin. Baik banget ya Tuhan:)



Sekian kisahku 3 hari di Bandungan. Sebenarnya masih banyak kisah yang akan ku bagikan tapi, di lain waktu saja, ya. Jelasnya, Bandungan waktu itu meninggalkan kesan yang abadi. Sebuah pelajaran yang berharga juga titik dimana aku menemukan sebuah titik cerah di jalan yang kulalui. Semoga bertahan, ya.


REGARDS,
ME




Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAY 1; Yang Dicari Di Cancangan

Melankolia